Satu Perangkap Tikus

Comments: (3)
Seekor tikus mengintip disebalik celah di tembok untuk mengamati sang petani dan isterinya membuka sebuah bungkusan. Ada makanan fikirnya?
Dia terkejut sekali, ternyata bungkusan itu berisi perangkap tikus.Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu menjerit memberi peringatan,
"Awas, ada perangkap tikus di dalam rumah, awaslah, ada perangkap tikus di dalam rumah!"

Sang ayam dengan tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk
tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, "Ya maafkan aku, Pak Tikus, aku
tahu ini memang masalah besar bagi kamu, tapi buat aku secara peribadi tak
ada masalahnya. Jadi jangan buat aku peninglah."

Tikus berbalik dan pergi menuju sang kambing, katanya, "Ada
perangkap tikus didalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!" "Wah, aku menyesal dengar khabar ini,"
si kambing menghibur dengan penuh simpati, "tetapi tak ada sesuatupun yang bisa
kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu sentiasa ada dalam doa doaku!"

Tikus kemudian berbelok menuju si lembu. " Oh? sebuah perangkap
tikus, jadi saya dalam bahaya besar ya?" kata lembu itu sambil ketawa.

Jadi tikus itu kembalilah kerumah,kepala tertunduk dan merasa
begitu patah hati, kesal dan sedih, terpaksa menghadapi perangkap tikus itu sendirian.

Malam itu juga terdengar suara bergema diseluruh rumah, seperti bunyi
perangkap tikus yang berjaya menangkap mangsanya. Isteri petani berlari
pergi melihat apa yang terperangkap. Didalam kegelapan itu dia tak bisa
melihat bahawa yang terjebak itu adalah seekor ular berbisa. Ular itu sempat
mematuk tangan isteri petani itu. Petani itu bergegas membawanya ke hospital. Dia kembali ke rumah dengan demam. Sudah menjadi
kebiasaan setiap orang akan memberikan pesakit demam panas minum sup ayam segar, jadi petani
itu pun mengambil goloknya dan pergilah dia ke belakang mencari bahan bahan untuk supnya itu.

Penyakit isterinya berlanjutan sehingga teman teman dan jiran tetangganya datang menjenguk, dari
jam ke jam selalu ada saja para tamu. Petani itupun menyembelih kambingnya untuk memberi makan
para pengunjung itu.

Isteri petani itu tak kunjung sembuh. Dia mati, jadi makin banyak lagi orang orang yang datang untuk pengkebumiannya sehingga petani itu
terpaksalah menyembelih lembunya agar dapat menjamu makan orang orang itu.


Moral kisah ini:

Apabila kamu dengar ada seseorang yang menghadapi masalah dan kamu fikir itu tiada kaitan dengan anda, ingatlah bahawa apabila ada 'perangkap tikus' didalam rumah, seluruh 'ladang pertanian' ikut menanggung risikonya .

Sikap mementingkan diri sendiri lebih banyak keburukan dari baiknya

Cinta Dan Perkahwinan

Comments: (3)
Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya boleh menemukannya?

Gurunya menjawab,"Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, ertinya kamu telah menemukan cinta" Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan masa berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak ku ambil ranting tersebut.

Ketika ku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusedari bahawasanya ranting-ranting yang ku temukan kemudian tak sebaik dan secantik ranting yang tadi, jadi tak ku ambil sebatang pun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab "Jadi itulah yang dikatakan cinta"

Pada hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya boleh menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, kerana ertinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-sederhana saja, tidak terlalu lurus batangnya. Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan ku rasa tidaklah buruk sangat, jadi ku putuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya" Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan itulah yang dikatakan perkahwinan"


Moral :

Oleh itu carilah cinta dan dapatkan perkahwinan. Kerana kita tidak mungkin memperoleh sebenar seperti yang kita impikan. Hidup ini hanya kesempatan yang sedikit dan sementara. Tidak mungkin akan terpenuhi segala yang kita mahu. Terimalah seadanya apa yang Allah dah tentukan untuk kita..

Sang Kancil Dengan Buaya

Comments: (4)
Seekor buaya yang sedang berjemur ditebing sungai dengan tiba-tiba telah terhimpit ditimpa batang pokok yang tumbang. Ia pun merintih dan meraung meminta pertolongan. Raungannya itu didengari oleh seekor kerbau yang sedang makan rumput ditebing sungai itu.

Sang kerbau pun datang membantu sibuaya dengan penuh ikhlas dan penuh rasa kasihan. Setelah batang pokok itu diangkat keatas oleh sang kerbau, sang buaya pun terlepas dari himpitan dan dengan tiba-tiba ia terus menggigit kaki sang kerbau. Sang kerbau pun meraung meminta pertolongan dan merayu kepada sang buaya supaya beliau bersikap adil supaya tidak membahamnya kerena beliau telah pun membuat jasa.

Pada masa yang sama ternampaklah mereka akan sebuah tudung saji buruk yang hanyut dibawa arus. Lalu mereka bertanyalah kepada tudung saji itu tentang samaada patutkah sikap sang buaya bersikap sedemikian.

Tudung saji menjawab sang buaya memang patut berbuat sedemikian kerena berdasarkan pengalamannya dia telah dibuang kesungai oleh tuannya apabila keadaannya telah buruk dan telah digantikan dengan tudung saji yang baru. Semasa beliau masih baru dan cantik mereka meletakkan beliau ditempat-tempat yang mulia. Dia digunakan beberapa lama sehingga ia menjadi buruk dan rosak kemudiannya dibuang begitu sahaja. Bakti beliau untuk melindunigi makanan selama ini tidak lagi menjadi perhitungan oleh tuannya untuk mereka disimpan atau dimuliakan lagi.

Oleh itu dia berpendapat adalah adil bagi sang buaya memakan sang kerbau kerena jasa atau budi lama yang lalu sememangnya selalu tidak perlu diambil kira. Tudung saji itu pun terus hanyut. Seketika kelihatan pula tikar buruk yang hanyut terapung dipermukaan air sungai itu. Lalu mereka pun bertanya seperti apa yang ditanyakan kepada tudung saji tadi.

Tikar buruk itu menjawab dengan jawaban yang serupa seperti yang dijawab oleh tudung saji tadi dan dia pun terus hanyut meninggalkan mereka. Sang buaya pun berpuas hati dan mula menarik kerbau itu kedalam air. Tetapi entah macam mana sang kancil telah melewati ditempat kejadian itu dan sang kerbau pun meraung meminta pertolongan.

Sebagai memenuhi permintaan sang kerbau untuk mendapatkan keadilan, sang kancil pun memohon pada sang buaya untuk melakunkan kembali kejadian itu dari mula. Sang buaya bersetuju dan batang pokok tadi pun diletakkan kembali diatas belakangnya.

Sang kancil pun meminta sang kerbau berlalu dari situ dan sang buaya pun ditinggalkan mereka dalam keadaannya kesakitan dihimpit oleh batang pokok seperti keadaan mula-mula tadi. Sambil berjalan sebelum berpisah, sang kancil berpesan pada sang kerbau supaya dilain masa berhati-hati jika hendak memberi pertolongan

Ibarat Semut, Labah-Labah dan Lebah

Comments: (0)
Tiga binatang kecil ini menjadi nama dari tiga surah di dalam Al-Qur'an.An Naml (semut), Al 'Ankabuut (labah-labah), dan An Nahl (lebah).

Semut, menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa berhenti. Konon, binatang ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun. Padahal usianya tidak lebih dari setahun. Ketamakannya sedemikian besar sehingga ia berusaha - dan seringkali berhasil memikul sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya.

Lain lagi huraian Al-Qur'an tentang labah-labah. Sarangnya adalah tempat yang paling rapuh (Al 'Ankabuut; 29:41), ia bukan tempat yang aman, apapun yang berlindung di sana akan binasa. Bahkan jantannya disergapnya untuk dihabiskan oleh betinanya. Telur-telurnya yang menetas saling berdesakan hingga dapat saling memusnahkan. Inilah gambaran yang mengerikan dari kehidupan sejenis binatang.

Akan halnya lebah, memiliki naluri yang dalam bahasa Al-Qur'an - "atas perintah Tuhan ia memilih gunung dan pohon-pohon sebagai tempat tinggal"
(An Nahl;16:68). Sarangnya dibuat berbentuk segi enam bukannya lima atau empat agar efisen dalam penggunaan ruang. Yang dimakannya adalah serbuk sari bunga.

Lebah tidak menumpuk makanan. Lebah menghasilkan lilin dan madu yg sangat manfaat bagi kita. Lebah sangat disiplin, mengenal pembagian kerja, segala yang tidak berguna disingkirkan dari sarangnya. Lebah tidak mengganggu kecuali jika diganggu. Bahkan sengatannya pun dapat menjadi ubat.

Sikap kita dapat diibaratkan dengan berbagai jenis binatang ini. Ada yang berbudaya 'semut'. Sering menghimpun dan menumpuk harta, menumpuk ilmu yang tidak dimanfaatkan. Budaya 'semut' adalah budaya 'aji mumpung'.

Pemborosan, foya-foya adalah implementasinya. Entah berapa banyak juga jenis 'labah-labah' yang ada di sekeliling kita. Yang hanya berfikir: "Siapa yang dapat dijadikan mangsa"

Nabi Shalalahu 'Alaihi Wasallam mengibaratkan seorang mukmin sebagai 'lebah'. Sesuatu yang tidak merusak dan tidak menyakitkan :"Tidak makan kecuali yang baik, tidak menghasilkan kecuali yang bermanfaat dan jika menimpa sesuatu tidak merusak dan tidak pula memecahkannya"

Semoga kita menjadi ibarat lebah. Insya Allah!

Nilai RM 5

Comments: (0)
Jalan di situ berlopak-lopak besar,terhinjut-hinjut Toyota Corolla Altis 1.8 ini dilambung graviti. Ery duduk di sebelah sudah berapa kali bangun tidur, dengkurnya makin menjadi. Siaran radio sekejap berbunyi, bercampur-campur. Sekejap radio perak, sekejap kedah mengikut lambungan kereta lagaknya.

Aku terpaksa memperlahankan kereta melalui satu perkampungan nelayan yang kotor, beberapa budak-budak kecil dengan muka yang comot dan hingus kering di muka berlari-lari. Seorang daripadanya tidak berseluar langsung, geli.

Ada orang tua berbasikal mengangkat tangan memberi salam. Aku menaikkan cermin kereta, melepaskan rengusan garang.

Ery sudah bangun, mengesat-ngesat mata, menggeliat kasar. Mengeluarkan bunyi seperti kerbau. Perempuan sial, sopannya cuma di depan jantan, tersipu-sipu dan bersimpuh malu. Hipokrit ini cuma tahu bersolek dan berdandan bila mahu keluar, di rumah dia seperti perempuan baru beranak, t-shirt goboh dengan kain pelekat senteng dan rambut usai seperti orang gila, mengeluarkan bau hapak dan masam.

Ada sebuah jeti buruk disitu. Beberapa nelayan baru sampai dari laut disambut peraih-peraih buncit. Memunggah ikan. Ery sudah separuh menggelepar di luar meliar mata mencari Shafik, tunangnya. Aku duduk sahaja di dalam kereta. Aku bencikan pantai hanyir seperti ini.

Beberapa gadis bertudunglabuh lalu dengan menaiki basikal dan memberi senyuman.

Aku menghempas pintu serta merta. Memang benar. Perempuan kolot seperti mereka itu, patut dijerukkan saja di tempat busuk ini.Tolol!

Kemudian, datang seorang tua menghampiri tingkap belakang. Aku sedikit marah, mengetap bibir.

"Nak apa?!"

Dia terketar terkejut, sedikit berundur.

"Assalammualaikum nak, pakcik ambil upah cuci kereta.."

Dia bercakap dengan pandangan yang tumpah ke kakinya, tertib dan seperti takut. Di tangannya ada satu baldi buruk air sabun dengan tuala koyak di bahu. Baju kemeja kusam koyak di poket, cuma dibutang dua menampakkan dadanya yang leper ditolak tulang selangka. Seluar hijau pudar senteng.

Tidak berkasut dengan kuku hitam dan kaki yang reput. Menjijikkan!

"Basuh sajalah, tapi, awas!! Kalau calar kereta aku, tahulah macamana aku nak ajar kau!!"

Berkata sambil meliarkan mata pada Ery yang tengah tersengih-sengih meramas-ramas tangan dengan tunangnya itu. Duduk pula bersimpuh, membelai-belai rambut. Boleh pula kaki yang asyik duduk terkangkang di rumah itu ditutup rapat.

Orang tua itu tertunduk-tunduk mengucap terima kasih. Ah, miskin seperti ini tunduk-tunduk meminta simpati, tiada maruah. Terus saja dia menggosok satu demi satu tayar kereta. Memberus sambil terbatuk-batuk, meludahkan kahak hijau. Pengotor, sial! Aku mengalihkan mata ke pantai.

Peraih berdekah ketawa menepuk-nepuk elakang nelayan kurus itu. Menyerahkan beberapa ringgit. Nelayan itu tersenyum pahit. Menyelitkannya di celah kopiah. Itulah, siapa suruh kecil-kecil tidak mahu belajar pandai-pandai, masuk universiti dan kerja besar. Tidaklah hidup susah seperti itu. Bodoh!!

"Sudah nak!!" Pakcik itu datang setelah 20 minit. Aku sudah malas hendak memandangnya, dan kuhulurkan sahaja RM 5. Aku rasa itu sudah cukup lumayan untuk fakir seperti dia. Cepat-cepatlah dia pergi.

Tapi, sebaliknya dia memegang lama duit itu. Tunduk dan menangis tersedu-sedu. Menambahkan kerut dan mengelap mata dengan hujung kemejanya.

"Kenapa ni? Gila?!"

"Nak, seumur hidup pakcik hidup susah ini, pakcik kerja memetik kelapa, mencuci tandas di restoran, kemudian mencuci kereta, belum pernah pakcik terima upah sebanyak ini. Paling banyak pun hanya seringgit."

Dia bersungguh-sungguh melihat ke dalam mata aku.

Timbul pula sedikit simpati, sedikit sayu. Rasa yang tidak pernah bertakung dalam hati keras aku selama 25 tahun ini. Dia melipat kecil wang itu diikat simpul di dalam sapu tangan biru muda. Pergi dengan terhinggut menangis dengan baldi buruk ke arah sekumpulan nelayan.

Aku memandangnya dengan pandangan kosong. Ini warna kemiskinan, aku tidak pernah lihat. Aku membesar dalam hutan batu, di kota lumpur. Keras diselaput wang kemewahan, kemudian keluar dengan segulung ijazah. Bekerja seperti orang gila untuk duit. Biarlah, kalau aku mahu bantu, ramai lagi di luar sana. Lupakan saja..

Ery memanggil aku dari sebuah kedai makan di situ. Hampir 10 minit aku melayan meluat-melihat Ery yang tersipu-sipu menggagau mee dengan sudu dan garfu. Kemudian, kelibat orang tua itu melintasi kami, menjinjing dua beg besar hitam berisi barang. Hairan, takkanlah dengan wang RM 5 dia boleh membeli barang sebanyak itu. Mustahil. Atau dia memang ada duit tapi, berlagak seperti fakir. Mungkin..

Dengan rasa ragu, aku menghampirinya. Dia memberi senyum lembut dan aku dengan rasa curiga bertanya terus.

" Eh, pakcik. Tadi saya bagi lima ringgit, takkan dapat beli barang sebanyak ini?".

Bunyinya seperti meninggi. Pakcik itu seperti terkejut.

Dia diam dan tunduk seketika. Pahit menelan air liur. Meletakkan dua beg plastik di atas tanah, membukanya satu satu, perlahan-lahan dan terketar.

Aku terkedu. Terkejut dan malu. Pakcik itu mengeluarkan sapu tangan tadi dan membuka simpulannya. Wang aku tadi, masih terlipat kemas.

"Nak, pakcik tahu. Kami ini orang susah, nak. Hidup seperti najis, dibuang dan ditolak-tolak. Kalian pekup hidung melihat kami. Ambillah ini semula. Pakcik juga punya maruah. Kadang-kadang maruah kami lebih tinggi dari kamu orang kaya yang hidup berpura-pura, menipu orang. Harga diri kami masih kuat. Bila anak menyoal pakcik seperti tadi, anak telah memijak harga diri pakcik. Anak seperti menghukum pakcik sebagai orang tua sial yang berpura-pura susah. Ambillah semula, nak."

Pakcik itu meletakkannya di atas tangan aku, dan aku menolak, berkali-kali. Aku sudah menangis, meminta maaf, berkali-kali. Tidak mahu menyentuh langsung wang itu, hingga jatuh di hujung kaki.

"Lihat, itulah tempat duit. Di tapak kaki. Duit itu perlu, tapi jangan sampai ia lebih tinggi dari harga diri. Jangan sampai duit menjadikan kita angkuh dan bongkak. Pakcik ke sana tadi, tempat nelayan memunggah ikan. Pakcik kutip ikan-ikan kembung pecah perut ini yang sudah dibuang ke tepi. Dengan bangkai busuk ini pakcik sambung hidup anak-anak pakcik, jangan sampai kelaparan, jangan mati."

Mendatar sahaja suara orang tua itu berkisar-kisar dengan pukulan ombak. Dia terbatuk-batuk berjalan, meninggalkan aku dengan wang lima ringgit di hujung kaki, dua plastik berisi ikan busuk yang sudah mula dihurung lalat.

Aku terduduk menangis semahu-mahunya. Aku mempunyai wang yang boleh membeli segala kemewahan dunia. cuma aku belum mampu membeli sesuatu yang ada dalam diri orang tua itu.



Moral :

" jika tidak dapat apa yang kita suka, belajarlah utk menyukai apa yang kita dapat " renungkan..

Luahkan Sebelum Terlambat

Comments: (1)
Kisah ini tentang seorang gadis yang jatuh hati pada teman baiknya yang boleh berkongsi suka dan duka.

Kita gelarkan mereka sebagai Adam dan Farah. Bagaimanapun, Farah tidak pernah meluahkan perasaannya itu, bimbang persahabatan mereka yang sedia terjalin, akan tercalar dengan pengakuan itu.

Pada suatu hari, Adam mendatangi Farah dengan satu dilema. Adam meminati seorang gadis dan meminta pendapat Farah, sama ada dia harus menghantarnya satu kad ucapan. Hati Farah hancur berkecai tetapi dia sembunyikannya. Baginya, kebahagiaan kawan adalah kebahagiaannya jua.

"Adam rasa, dia suka Adam tak?" tanya Farah. "Adam tak pasti, tetapi... mungkin juga," jawab Adam. "Adakah Adam pasti dia belum berpunya?" tanya Farah lagi sambil di dalam hatinya berdoa si gadis pujaan Adam sudah mempunyai teman istimewa. Adam menjawab: "Belum."

"Kalau macam tu, teruskan. Itu cara terbaik untuk mengetahui sama ada dia juga sukakan Adam. Lagipun, siapalah yang mampu menolak lelaki seperti Adam," ujar Farah cuba bergurau dan menyembunyikan perasaannya. Selepas itu, Farah cuba mengorek lebih lanjut daripada teman-temannya dan Adam, siapakah gadis bertuah itu tetapi hampa.

Beberapa hari kemudian, Adam datang lagi. "Perlukah saya membelinya sejambak bunga?" "Ya, Farah tidak pernah terjumpa mana-mana perempuan yang tidak sukakan bunga!" "Bunga apa yang patut Adam berikan?" "Bergantung, kepada apa?" "Bergantung kepada apa jenis bunga yang dia sukakan dan berapa banyak wang yang Adam ada." "Adam tak kisah tentang duit."

"Kalau begitu, belikan dia bunga mawar merah, penjual bunga tentu tahu apa maksudnya." "Adakah penjual bunga boleh mengirimkannya bersama kad ucapan?'' "Ya." "Kenapa Adam tidak memberikannya sendiri." "Tak boleh." "Kenapa pula?" "Adam takut dia tidak sukakan Adam." Farah menjadi bertambah sedih.

Pada suatu hari, ketika sedang mengemas rumahnya, seseorang telah mengetuk pintu. Sebaik pintu dibuka, seorang lelaki penghantar berdiri bersama sejambak bunga mawar merah yang dikepilkan bersama sebuah kad ucapan. Kad itu berbunyi:

"Sudah lama Adam tertarik pada Farah (lelaki mana yang tidak tertarik pada Farah, bukan?) Namun, semakin kita menjadi akrab, Adam dapat melihat kecantikan dalaman Farah sebagaimana kecantikan luaran. Perasaan Adam menjadi lebih mendalam, melebihi seorang kawan tetapi Adam bimbang untuk berterus terang.

"Adam menghargai persahabatan kita lebih dari segala-galanya tetapi Adam mahu Farah tahu, apa yang Adam rasai di dalam. Sekiranya Farah tidak merasakan apa yang Adam rasai, Adam sesungguhnya mengerti. Adam harap, kita masih boleh terus menjadi teman karib dan Adam berjanji, tidak akan membangkitkan perkara ini lagi. Seolah-olah, ini semua tidak pernah berlaku dalam hidup kita, okey? Hubungi Adam. Adam mahu tahu, apa pendapat Farah."

Sudah tentu Farah terus menghubungi Adam dan sejak itu mereka menjadi pasangan sahabat, kekasih dan suami isteri yang bahagia sehingga kini.


MORAL :

Jadi saudara, hidup ini terlalu singkat untuk kita menerawang dan tertanya-tanya apa yang orang lain fikirkan tentang kita. Pejam mata, tetapkan pendirian dan 'go for it'.

Apa Salahnya Menangis ?

Comments: (1)
Apa salahnya menangis, jika memang dengan menangis itu manusia menjadi sadar. Sadar akan kelemahan-kelemahan dirinya, saat tiada lagi yang sanggup menolongnya dari keterpurukan selain Allah Swt. Kesadaran yang membawa manfaat dunia dan akhirat. Bukankah kondisi hati manusia tiada pernah stabil? Selalu berbolak balik menuruti keadaan yang dihadapinya. Ketika seseorang menghadapi kebahagiaan maka hatinya akan gembira dan saat dilanda musibah tidak sedikit orang yang putus asa bahkan berpaling dari kebenaran.

Sebagian orang menganggap menangis itu adalah hal yang hina, ia merupakan tanda lemahnya seseorang. Bangsa Yahudi selalu mengecam cengeng ketika anaknya menangis dan dikatakan tidak akan mampu melawan musuh-musuhnya. Para orang tua di Jepang akan memarahi anaknya jika mereka menangis karena dianggap tidak tegar menghadapi hidup. Menangis adalah hal yang hanya dilakukan oleh mereka yang tidak mempunyai prinsip hidup.

Bagi seorang muslim yang mukmin, menangis merupakan buah kelembutan hati dan pertanda kepekaan jiwanya terhadap berbagai peristiwa yang menimpa dirinya maupun umatnya. Rasulullah Saw meneteskan air matanya ketika ditinggal mati oleh anaknya, Ibrahim. Abu Bakar Ashshiddiq ra digelari oleh anaknya Aisyah ra sebagai Rojulun Bakiy (Orang yang selalu menangis). Beliau senantiasa menangis, dadanya bergolak manakala sholat dibelakang Rasulullah Saw karena mendengar ayat-ayat Allah. Abdullah bin Umar suatu ketika melewati sebuah rumah yang di dalamnya ada sesorang sedang membaca Al Qur’an, ketika sampai pada ayat: “Hari (ketika) manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” (QS. Al Muthaffifin: 6). Pada saat itu juga beliau diam berdiri tegak dan merasakan betapa dirinya seakan-akan sedang menghadap Robbnya, kemudian beliau menangis. Lihatlah betapa Rasulullah Saw dan para sahabatnya benar-benar memahami dan merasakan getaran-getaran keimanan dalam jiwa mereka. Lembutnya hati mengantarkan mereka kepada derajat hamba Allah yang peka.

Bukankah diantara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan pada hari dimana tiada naungan kecuali naungan Allah adalah orang yang berdoa kepada Robbnya dalam kesendirian kemudian dia meneteskan air mata? Tentunya begitu sulit meneteskan air mata saat berdo'a sendirian jika hati seseorang tidak lembut. Yang biasa dilakukan manusia dalam kesendiriannya justru maksiat. Bahkan tidak sedikit manusia yang bermaksiat saat sendiri di dalam kamarnya seorang mukmin sejati akan menangis dalam kesendirian dikala berdo'a kepada Tuhannya. Sadar betapa berat tugas hidup yang harus diembannya di dunia ini.

Di zaman ketika manusia lalai dalam gemerlap dunia, seorang mukmin akan senantiasa menjaga diri dan hatinya. Menjaga kelembutan dan kepekaan jiwanya. Dia akan mudah meneteskan air mata demi melihat kehancuran umatnya. Kesedihannya begitu mendalam dan perhatiannya terhadap umat menjadikannya orang yang tanggap terhadap permasalahan umat. Kita tidak akan melihat seorang mukmin bersenang-senang dan bersuka ria ketika tetangganya mengalami kesedihan, ditimpa berbagai ujian, cobaan, dan fitnah. Mukmin yang sesungguhnya akan dengan sigap membantu meringankan segala beban saudaranya. Ketika seorang mukmin tidak mampu menolong dengan tenaga ataupun harta, dia akan berdoa memohon kepada Tuhan semesta alam.

Menangis merupakan sebuah bentuk pengakuan terhadap kebenaran. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata: “Ya Robb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur’an dan kenabian Muhammad)”. (QS. Al Maidah: 83). Ja’far bin Abdul Mutholib membacakan surat Maryam ayat ke-16 hingga 22 kepada seorang raja Nasrani yang bijak. Demi mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, bercucuranlah air mata raja Habsyah itu. Ia mengakui benarnya kisah Maryam dalam ayat tersebut, ia telah mengenal kebenaran itu dan hatinya yang lembut menyebabkan matanya sembab kemudian menangis. Raja yang rindu akan kebenaran benar-benar merasakannya.

Orang yang keras hatinya, akan sulit menangis saat dibacakan ayat-ayat Allah. Bahkan ketika datang teguran dari Allah sekalipun ia justru akan tertawa atau malah berpaling dari kebenaran. Sehebat apapun bentuk penghormatan seorang tokoh munafik Abdullah bin Ubay bin Salul kepada Rasulullah Saw, sedikit pun tidak berpengaruh pada hatinya. Ia tidak peduli ketika Allah Swt mengecam keadaan mereka di akhirat nanti, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan neraka yang paling bawah. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan seorang penolongpun bagi mereka”. (QS. An Nisa’: 145)

Barangkali di antara kita yang belum pernah menangis, maka menangislah disaat membaca Al Qur’an, menangislah ketika berdo'a di sepertiga malam terakhir, menangislah karena melihat kondisi umat yang terpuruk, atau tangisilah dirimu karena tidak bisa menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah. Semoga hal demikian dapat melembutkan hati dan menjadi penyejuk serta penyubur iman dalam dada. Ingatlah hari ketika manusia banyak menangis dan sedikit tertawa karena dosa-dosa yang diperbuatnya selama di dunia. “Maka mereka sedikit tertawa dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At Taubah: 82).

Jadi apa salahnya menangis?